bang idin

photo vivaforum


Haji Chaeruddin, Pemenang hadiah Kalpataru untuk bidang konservasi air, bersama dengan kelompok tani sangga buana, telah membuktikan kepada kita semua bahwa perjuangan yang dia lakukan untuk alam memang perlu di apresiasi oleh para generasi muda. Pria yang lebih akrab disapa Bang Idin ini telah menata 120 hektar lahan dari total 136 km panjang sungai Pesanggrahan. Empat puluh hektar darinya berada di Jakarta Selatan di sepanjang 36 km bantaran sungai. 80 hektar lainnya tersebar di wilayah Bogor, Tangerang, Depok dan Banten.

“Alam Ini Bukan Warisan Nenek Moyang Tetapi Titipan Anak Cucu Kita”, demikian  tulisan di sebuah plang yang di tancapkan di sebatang pohon ditengah jalan masuk menuju Pos 1, salah satu pos pengawasan sungai Pesanggrahan.

Semua itu berawal dari keinginan dari bang idin sendiri karena prihatin melihat kondisi kali pesanggrahan yang mungkin sewaktu-waktu akan mendatangkan bencana bila tidak dirawat (banjir). atas dasar itulah ia bersama kelompok tani sangga buana memutuskan untuk mewujudkan keasrian sekitar kali pesanggrahan dengan membuat hutan disekitarnya.

Pria ini protes terhadap pembangunan Jakarta yang lebih menekankan pada pembangunan fisik. Bang Idin melancarkan protes. Ia berujar: “Protes saya lakukan dengan membersihkan sampah, menanam pohon dan tidak memaki maki, alih-alih membuat bom” ujar pria yang lahir 13 April 1956.

“Ada sekitar 30 rawa besar yang hilang di Jakarta. Jika Jakarta banjir, itu karena air menemukan jalannya. Alam tidak bisa dilawan!” ujarnya.

Selain Kalpataru pria dengan dua anak ini juga menerima beberapa penghargaan dari Abu Dhabi, Jerman dan Belanda. “Saya tidak bangga dengan penghargaan tersebut. Apa yang bisa dilakukan dengan penghargaan? Lebih baik jika pemerintah menyediakan bantuan untuk lingkungan”

Ia tak pernah lelah dengan apa yang dikerjakan, tak meminta upah kepada siapapun. Ini semua ia lakukan semata-mata hanya untuk mewujudkan sebuah penciptaan yang dapat diapresiasi dan dijaga oleh generasi yang akan datang.