PAKAR Keamanan Pangan dan Gizi Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor, Prof Ahmad Sulaeman, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai buah impor. Pasalnya, buah impor tidak lepas dari pestisida.

Dari berbagai penelitian, katanya, pangan yang mengandung residu pestisida mampu menyebabkan demaskulinisasi. Meski dalam kandungan rendah, hal ini bisa mengganggu perkembangan organ reproduksi manusia.

Karenanya, tidak mengherankan jika sekarang banyak banci atau kaum transgender. Padahal kalau menengok tahun 1960-an, yang disebut banci itu adalah mereka yang punya kelamin ganda.

Misalnya, pelari nasional dari Tasikmalaya akhirnya mengubah kelaminnya menjadi laki-laki, karena sejak dilahirkan ia memiliki kelamin ganda.

Sementara pada zaman sekarang, para banci ini berawal dari laki-laki tulen, tapi lambat laun sifatnya kemayu dan kecenderungan sosialnya ke sesama laki-laki.

“Itu terjadi setelah 30-40 tahun penggunaan pestisida atau revolusi hijau pertama,” katanya.

Menurut dia, harus diakui bahwa banyaknya kaum banci sekarang ini adalah dampak dari revolusi hijau pertama. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di sejumlah negara.

Dampak lain dari pestisida adalah pada anak-anak. Ia mengemukakan, banyak anak yang baru minum ASI (air susu ibu) saja bisa keracunan DDT, akibat sang ibu mengkonsumsi sayur dan buah yang terpapar pestisida. Hal ini dapat mengganggu perkembangan mental dan kognitif anak.

Ahmad pun menjelaskan sebuah penelitian di Meksiko yang membandingkan anak yang biasa mengkonsumsi pangan organik (tanpa pestisida) dan non-organik (disemprot pestisida).

Hasilnya, lanjutnya, anak yang selalu terpapar pestisida tidak mampu menggambar, sekalipun gambar garis yang sederhana. Sebaliknya, anak yang biasa mengkonsumsi pangan organik disebutkan mampu menggambar dengan bagus.

Selain itu, anak yang dilahirkan dari ibunya yang terpapar pestisida, mempunyai resiko penyakit yang mungkin berkembang seperti penyakit leukemia.

Untuk itu, ia mengimbau agar masyarakat kembali ke buah lokal yang penuh khasiat, seperti manggis, bisbul, nangka, dan lainnya.

“Sayangnya, pasar buah kita, terutama di supermarket, masih didominasi oleh buah impor,” katanya.

Menurutnya, dari 225 jenis buah dan sayur segar yang dijual di swalayan, 60-80 persen merupakan buah impor. Karena itu, ia menegaskan lagi bahwa penggemar buah segar perlu ekstra waspada, terutama pecinta buah impor, seperti anggur, pir dan apel.

“Apalagi jika sedang ada promo buah impor dengan harga yang sangat murah,” katanya.

Metrotvnews