Jakarta – Pendidikan seks seringkali tabu untuk dibicarakan. Padahal semakin bertambahnya usia, keinginan dan hasrat anak untuk mengetahui tentang seks akan semakin besar. Bila orangtua tidak membekali anaknya dengan pendidikan seks, mereka bisa kecolongan ketika anak mulai masuk dalam pergaulan yang lebih luas.

“Hal utama yang perlu diperhatikan ketika mengajarkan seks pada anak adalah orangtua harus membuat anak mengerti apa pengertian dari seks itu sendiri. Misalnya dengan mempertanyakan “what’s your sex, female or male?” kata Hilman Al Madani, konselor keluarga dari Yayasan Kita dan Buah Hati, di Jakarta, Senin (23/7).

Menurutnya, ia mengajarkan kepada peserta didiknya untuk memberikan pengertian bahwa seks adalah laki-laki atau perempuan (jenis kelamin). Jadi pengertian seks tidaklah “jorok”, tetapi yang dianggap “jorok” adalah perilakunya.

“Jadi dalam pendidikan seks kita juga mengajarkan bagiamana laki-laki harus bersikap dan wanita harus bersikap, bukan sebaliknya. Sehingga, mereka dapat menjadi laki-laki atau perempuan yang seutuhnya,” jelas Hilman.

Ia menjelaskan, pendidikan seks harus dimulai sedini mungkin. Hilman mengungkapkan, bahkan anak bayi di dalam kandungan pun sebenarnya sudah ereksi. Jadi sangatlah wajar bila orangtua mengenalkan sejak dini, namun memang takarannnya harus disesuaikan.

“Tahapan paling awal misalnya ketika anak sedang mandi. Sebaiknya kita beritahu bahwa dia memiliki kemaluan. Karena itu, ajarkan dia untuk malu bila hal itu dilihat oleh orang lain,” imbuhnya.

Untuk laki-laki atau perempuan yang mengalami “kebingungan gender”. Hilman menyarankan supaya sang anak mulai diberikan terapi sedini mungkin. Selain itu, perlu adanya pendidikan bagi orangtua untuk menerapkan pada anak seumur hidup anak. [WS] {jcomments on}

Go to Source

Iklan