Jakarta – Sampai saat ini tindakan bedah plastik masih menjadi pro dan kontra di tengah masyarakat. Hal ini dikarenakan seseorang yang menjalani bedah plastik dianggap menyalahi kodrat dari apa yang telah ia terima dari Tuhan.

Namun Teuku Adiftrian, dokter spesialis bedah dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, dalam koneferensi pers di Jakarta, Selasa (31/7), berpendapat sebaliknya.

“Kontradiksi mengenai bedah plastik harus dilihat dari sisi mana anda melihat. Untuk saya, hukum itu bersifat aplicable, demikian juga dalam hukum Islam. Jadi harus dilihat tujuan dan prosedurnya untuk apa. Kalau untuk memperbaiki kondisi fisik seseorang agar lebih percaya diri dan bermanfaat apakah salah,” jelas dokter yang juga penyanyi jazz bernama panggung Tompi ini.

Tompi mencontohkan, pada anak yang lahir sumbing, semua hal bisa dilakukan oleh anak ini, baik makan, minum atau sekolah. Akan tetapi, bila tersenyum, akan kelihatan bila bibirnya sumbing. Menurut Tompi, bedah plastik tidak masalah karena tujuannya membuat anak tersebut menjadi lebih baik.  

“Tapi, kalau sudah sempurna ya jangan dikerjakan. Kalau saya pribadi tidak akan saya kerjakan. Kalau hasilnya lebih jelek, nanti justru dia komplain sama saya,” ujar Tompi.

Jelasnya, ia tidak pernah mencoba sesuatu kalau ia tidak yakin akan mampu mengerjakannya. Menurut Tompi, segala sesuatu tidak bisa dilihat dari point of viewnya saja. Tetapi juga harus dilihat dulu secara menyeluruh.

Tompi juga membantah bahwa operasi plastik itu membuat kecanduan. Menurutnya, hal tersebut sangat tergantung pada individu masing-masing. Karena itu, Ia menekankan bahwa penting bagi seorang dokter untuk mengatakan “tidak” bila pasien sudah terlalu berlebihan.

“Di sinilah peran dokter untuk mengatakan tidak. Ini adalah ajaran yang sejak dulu diberikan kepada saya. Bahwa yang paling mahal dari operasi adalah mengatakan tidak,” ujarnya.

Namun, yang sering menjadi masalah adalah, ketika sang dokter sudah mengatakan “tidak”, sang pasien justru lari dan meminta penanganan dari dokter lain atau tenaga medis lain yang kurang profesional. Beberapa kasus yang terjadi, justru hasilnya memburuk dan akhirnya kembali harus ditangani dokter semula.

Tompi menjelaskan, pada dasarnya operasi berulang-ulang pada satu titik justru akan membuat jasil menjadi semakin jelek. Hal ini dikarenakan adanya trauma yang berulang-ulang pada suatu titik. Karena itu, dokter harus peka dengan kondisi ini dan melakukan pembatasan.

“Hal inilah yang membedakan dokter bedah plastik dengan tenaga medis yang hanya modal kursus kecantikan. Dokter itu bisa memprediksi apa yang terjadi kedepannya,” katanya.

Menanggapi maraknya salon kecantikan dan klinik yang mampu memberikan bedah plastik, Tompi mengatakan bahwa hal tersebut sebenarnya telah ada sejak lama. Namun ia mengakui bahwa saat ini masyarakat lebih terbuka terhadap hal tersebut.

“Namun, yang perlu diingat adalah, lebih baik mereka melakukan sesuai prosedur dengan dokter bedah berpengalaman daripada menggunakan teknik-teknik yang ngaco,” tambahnya. [WS] {jcomments on}

Go to Source