Jakarta – Menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan meningkatkan pengawasan produk pangan di masyarakat. Ini dimaksudkan untuk mencegah dan melindungi masyarakat dari penyebaran produk pangan yang tidak memenuhi syarat mutu dan kemanan.

“Ini sudah menjadi tanggung jawab kami untuk melakukan pengawasan di tempat produksi, distribusi, hingga ke pasar. Kenapa menjelang Lebaran kami banyak muncul? Hal ini lebih dikarenakan demand ketika bulan puasa meningkat, untuk itu kita lakukan pengawasan dengan lebih intensif,” ujar Suratmono, Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Pangan BPOM, pada konferensi pers di kantor BPOM, Jakarta, Senin (16/7).

Ia memaparkan, sebenarnya tindakan pengawasan merupakan kegiatan rutin BPOM, tidak hanya pada masa Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Suratmono juga memaparkan penemuan BPOM dalam tiga tahun terakhir, terutama mendekati bulan puasa.

Dari hasil temuan Badan POM pada tahun 2009-2011, pelanggaran paling banyak adalah tidak memiliki ezin edar, puncaknya pada tahun 2010. BPOM mencatat, daerah dengan paling banyak ditemukan adalah pangan tanpa izin edar adalah Medan, Padang, Pontianak, dan Pekanbaru. Sedangkan, produk yang paling banyak tidak memenuhi ketentuan adalah makanan kaleng.

“Sedangkan, pelanggaran terkait kadaluarsa banyak ditemukan pada daerah perbatasan dan terpencil seperti Jayapura, Ambon, Kupang, yang transportasi serta sumber daya manusianya terbatas,” ujar Suratmono. 

Jelas Suratmono, menjelang bulan puasa, perminataan terhadap makanan menjadi meningkat. Karena itu pasokan pun semakin banyak, termasuk makanan yang tidak layak edar. Permintaan terhadap makanan meningkat 20 persen dari kebutuhan normal biasanya.

“Saat ini kami terbantu dengan banyaknya inisiatif dari dinas terkait di daerah yang membantu melakukan pengawasan. Bahkan membuat operasi bersama untuk pengawasan di lapangna,” ujar Suratmono. .

BPOM sudah mendidik sekitar 2.800 tenaga penyuluh keamanan pangan dan termasuk diantaranya tenaga DFA (Distrik Food Administration) untuk mengawasi peredaran makanan jelang puasa.

Jelas Suratmono, saat ini masyarakat telah pintar untuk memlilih produk. Selain itu, pada masa sekarang ini ada kecenderungan untuk mulai beralih ke barang jadi, sehingga menurunkan permintaan parsel makanan.

Selain itu, gerai retail besar juga memiliki dewan pengawasan pangan sendiri, agar tidak menjadi bomerang yang menyerang balik. Misalnya untuk gerai besar, mereka punya asosiasi pedagang  dan punya pencegahan lebih dini secara internal supaya yang kadaluawarsa langsung disingkirkan.

“Pengawasan di daerah penting karena biasanya di daerah kecil dan kabupaten kota, banyak bahan pangan tidak memiliki izin edar, kadaluwarsam dan telah rusak secara fisik,” ujar Suratmono. [WS]
{jcomments on} 

Go to Source