Jakarta – Hati ternyata memiliki kemampuan yang sangat istimewa, yakni meregenerasi hanya dalam kondisi 30%. Hal inilah yang menyebabkan penyakit hati, seperti hepatitis B, sangat sulit terdeteksi lebih awal.

“Kalaupun ada kerusakan mencapai 70%, penderita masih terlihat layaknya orang normal. Hal inilah yang mengakibatkan pada penderita gangguan hati, tidak terlihat gejala apapun,” ujar Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia Rino A Gani, di Jakarta, Jum`at (20/7).  

Ia menambahkan, pada penderita hepatitis B, waktu sejak terkena virus hingga menjadi kronik membutuhkan waktu yang cukup lama, atau sekitar 3-50 tahun, dan sering tanpa gejala. Hal ini dikarenakan, dalam masa tersebut terjadi peperrangan antara kerusakan hati dengan regenerasi hati.

“Namun, setelah melakukan regenerasi berkali-kali, lama-lama hati tidak kuat, dan akhirnya mulai rusak,” ujar Rino.

Pada beberapa penderita Hepatitis B, selain dikarenakan adanya antibodi melalui vaksin, kemampuan hati untuk mempertahankan regenerasinya, bahkan hingga memulihkan diri, menyebabkan terkadang orang tidak sadar bahwa ia pernah mengidap virus Hepatitis B.

“Terkadang orang tidak sadar bahwa dia terinfeksi Hepatitis B dan sudah mengeluarkan virusnya,” ujar Rino.

Mengingat peranannya yang sangat vital bagi tubuh, Rino mengimbau agar setiap orang menjaga pola hidupnya dengan baik, dan menjauhi resiko yang bisa menyebabkan kerusakan hati dan penularan Hepatitis B.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain menghindari minuman alkohol, menghindari penggunaan jarum suntik bersama-sama, menghindari tatto, pisau cukur yang kurang steril, hubungn intim dengan penderita tanpa menggunakan pengaman, dan sebagainya. “Namun, perlu diingat bahwa penularan Hepatitis B dan C bukan melalui penggunaan alat makan dan alat mandi secara bersama-sama,” ujar Rino. [WS] {jcomments on}

Go to Source