Jakarta – Masyarakat perlu mewaspadai serangan osteoporosis. Pasalnya, penyakit pengeroposan tulang ini tidak hanya menyerang kalangan tua, tetapi mereka yang berusia muda pun dapat terserang osteoporosis.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Perhimpunan Ahli Osteoporosis, Siti Anisa Nuhonni, SpKFR, pada acara media edukasi, di Jakarta, Selasa (24/7).

“Ada beberapa faktor yang mempengaruhi resiko osteoporosis, seperti perubahan hormon, kurang bergerak, dan konsumsi obat-obatan tertentu,” kata Honni.

Ia menjelaskan, jika jumlah kalsium dalam tubuh seseorang berkurang, maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk dari tulang. Karena itu, tubuh harus dibantu dengan asupan makanan yang mengandung tinggi kalsium.

Menurut Honny, asupan kalsium masyarakat Indonesia masih sangat rendah, yaitu kurang dari 300 mg, padahal seharusnya setiap hari konsumsi kalsium sebanyak 1000 mg.

“Obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi kepadatan tulang, misalnya penggunaan steroid untuk penderita asma. Karena itulah obat ini harus digunakan dengan indikasi yang jelas dan dipantau oleh dokter,” ujar Honny.

Honny menambahkan, meskipun asupan kalsium cukup, namun diperlukan vitamin D untuk bisa mengikat kalsium. Karena itu, Honny menyarankan agar seseorang terpapar matahari secara cukup, minimal sekitar 10 menit per hari.

Ia menjelaskan, pada dasarnya tulang merupakan organ tubuh paling dinamis, dan berproses tanpa terasa oleh tubuh. Proses ini seharusnya terjadi secara seimbang. Sehingga massa tulang stabil dan selalu dalam keadaan padat.

Puncak kepadatan tulang dewasa pada usia 30-34 tahun, kemudian pembangunan berangsur menurun dan pada saat menjadi seorang manula. Karena itu, diperlukan tabungan kalsium yang cukup dalam tubuh sehingga tulang tidak mudah keropos.

Jelasnya, tabungan kalsium dapat diperoleh dari pola hidup sehat, dengan olah raga dan gerak cukup, serta menghindari rokok dan alkohol. [WS] {jcomments on}

Go to Source