Jakarta – Direktur Penyehatan Lingkungan Ditjen P2PL Kemkes, Wilfried H. Purba, mengatakan, pasar yang kurang terjaga dalam hal pengelolaan kebersihannya, berpotensi sebagai tempat penularan penyakit. Penyebaran Flu Burung di Banten, Jabar, dan DKI Jakarta beberapa waktu lalu, disinyalir merupakan penyebaran penyakit yang berasal dari lingkungan pasar.

Demikian disampaikannya dalam Sosialisasi Program Pembangunan Kesehatan di Kantor Kemkes, Jakarta, Jumat (27/7).

Wilfried mengungkapkan, dari beberapa kasus, terlihat bahwa pasar dapat menjadi termpat yang berpotensi menyebarkan penyakit. Misalnya, semua unggas masuk dari berbagai daerah, kemudian dipotong di tempat tersebut, baik yang dalam kondisi baik maupun dalam keadaan mati atau busuk.

“Karena itu kita akan melakukan pelarangan tehadap pemotongan ayam yang sudah mati. Ajaran agama juga melarang mengonsumsi ayam mati. Selain itu, dari aspek kesehatan juga kurang baik karena darah dalam ayam yang mati cepat membusuk,” ujar Wilfried.

Selain itu, pasar yang tidak bersih juga dapat membawa potensi penyakit lain seperti diare, ISPA, TBC, DBD, dam cacingan.

Wilfried mengungkapkan, bila ditemukan satu kasus di suatu pasar yang berpotensi sebagai sumber infeksi, maka Kemkes akan segera melakukan disinfeksi. Selanjutnya akan ditetapkan apakah pasar tersebut perlu dikosongkan selama beberapa saat atau tidak.

Ia menjelaskan, pemerintah sebenarnya telah mencanangkan kebijakan agar setiap unggas yang dipotong dilokalisir di satu tempat, sehingga pengawasan terhadap ayam akan semakin mudah. Namun, hal tersebut diprotes oleh pedagang dan tidak dilanjutkan.

Karena itu, ia mengimbau agar semua pihak bekepentingan memikirkan mengenai kebersihan pasar. Menurutnya, bila kebersihan pasar terjaga, selain dapat terbebas dari penyakit, juga dapat menguntungkan dari sisi ekonomi. [WS] {jcomments on}

 

Go to Source