Jakarta – Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, dr. Tirta Prawita Sari, mendesak pemerintah untuk mengeluarkan regulasi untuk memberikan kesempatan yang layak untuk ibu pekerja selama masa kehamilan dan pemberian ASI. Selain itu, Tirta juga mengimbau agar pemerintah mensosialisasikan kembali mengenai Permen No 33 Tentang Pemberian ASI Ekslusif.

Demikian disampaikan YGMSG, dalam siaran pers yang diterima Gatranews, di Jakarta, Selasa (31/7).

“Di Indonesia, pemerintah hanya menetapkan cuti melahirkan sesuai UU Tenaga Kerja Nomor 13 tahun 2003 yaitu selama 3 bulan. Sedangkan, untuk cuti menyusui hanya dilakukan oleh sedikit institusi bagi pekerjaanya,” kata Tirta.

Menurutnya, dengan kebijakan cuti yang sempit ini, menyebabkan kesempatan ibu untuk kontak menyusui bayi/anaknya juga sangat terbatas.

“Padahal semua orang tahu bahwa ibu yang menyusui selain karena ASI yang diberikan mengandung berbagai nutrisi yang diperlukan oleh bayi/anaknya, kegiatan menyusui juga dapat mempererat hubungan emosional (bonding) antara ibu dan bayi,” ujar Tirta.

Tirta melihat, kebijakan cuti melahirkan selama hanya 3 bulan menjadi ambigu dan tidak konsisten. Karena, dalam PP jelas menyebutkan bahwa setiap ibu “wajib” memberikan ASI kepada bayinya secara eksklusif.

Selain itu, fasilitas yang diberikan oleh pemerintah terhadap wanita pekerja sekaligus ibu, jelas tidak akan berfungsi optimal. Menurutnya, pemerintah kurang menyadari hal tersebut, bahwa pada pada kenyataannya, ibu harus memilih antara memberikan ASI atau tetap bekerja.

“Yang jadi masalah utama adalah kebanyakan perempuan pekerja tersebut bukan berasal dari kalangan ekonomi kelas menengah atas, tetapi justru masayarakat mengenah kebawah. Dimana, mereka berkerja sebagai tuntutan ekonomi keluarga karena suami yang tak memiliki penghasilan yang memadai,” ujar Tirta.  

Karena itu, Tirta menyimpulkan bahwa pemerintah tidak tegas memperhatikan kesejahteraan ibu menyusui, sehingga akan mempengaruhi keberhasilan program ASI eksklusif.

“Untuk mengatasi masalah pemberian ASI ekslusif dan pekerjaan. Di Australia, setiap keluarga diberi jatah cuti maksimal 52 minggu tidak dibayar, seorang ibu dapat menggunakan jumlah waktu yang dinginkan untuk cuti. Ibu yang menyusui juga mendapat kelonggaran dari bekerja sepanjang hari menjadi paruh waktu (1- 15 jam per minggu) atau waktu yang fleksible,” ujar Tirta.

Sementara itu, Inggris memberikan memberikan jatah 39 minggu diantara 52 minggu dengan tetap mendapat gaji. Brazil, menetapkan jadwal 2,5 jam diantara jam kerja untuk menyusui bayi selama 6 bulan.

Di Swedia, ibu yang baru melahirkan mendapat cuti melahirkan dan merawat bayi sampai 18 bulan, sedangkan di Republik Ceko selama 28 minggu. [WS]{jcomments on}

Go to Source