Jakarta  – Seorang psikolog mengatakan, para suami yang istrinya sedang hamil, penting untuk mengerti kondisi psikologis sang istri, yang sedang dilanda kecemasan, depresi, sekaligus perasaan bahagia.

“Ada tiga kondisi utama psikologis istri yang sedang hamil yaitu kecemaasan, depresi dan bahagia. Cemas itu berasal karena berbagai ketidakpastian, misalnya bagaimana kondisi janin, apakah janin sehat atau tidak. Karena itu seringkali kecemasan membuat perasaan berdebar-debar,” ujar Anna Surti Ariani, psikolog tersebut, dalam konferensi pers dari Frisian Flag, di Djakarta Theatre, Selasa (17/7). 

Menurutnya, kecemasan sang ibu diperparah dengan banyaknya mitos yang salah seputar kehamilan. Selain itu, ada kecemasan lain yang tidak terduga menjelang masa kelahiran, misalnya apakah melahirkan secara caesar atau normal, dan sebagainya.

“Kecemasan juga bertambah ketika punya pengalaman buruk. Sehingga sang ibu mempunyai trauma untuk hamil kembali. Atau melihat pada pengalaman orang lain yang kurang baik. Hal ini dapat diperparah dengan kondsisi ekonomi dan keuangan keluarga,” ujar Anna.

Anna menjelaskan, biasanya kurva kecemasan meningkat pada masa kehamilan, dan mulai menurun pada pertengahan kehamilan. Kemudian, kurva akan kembali naik ketika mendekati masa melahirkan.

“Namun, yang patut diwaspadai adalah ketika depresi banyak hal yang bsia terjadi pada psikologis ibu. Terutama bila ibu tidak memiliki mental yang kuat, dan mendapat dukungan yang cukup. Sala h satu gejala depresi antara lain keinginan untuk hubungan suami isti berkurang. Setelah itu, ada syndrome pada ibu seperti baby blues sindrome, postpartum depression, dan pospartum psychosis,” katanya. 

Sedangkan, aspek bahagia adalah suatu fase dimana seorang wanita mengalami kebahagiaan karena menjadi wanita yang seutuhnya. Para ibu, cenderung mulai memperhatikan diri, apalagi, terkadang wanita hamil mendapatkan kebahagiaan dan keistimewaan khusus.

“Selain itu, ibu juga mempunyai harapan baru, dan menimbulkan cinta yang baru dalam hubungan suami istri,” jelasnya.

Akan tetapi, ibu pun harus sadar bahwa sebenarnya suami pun mengalami keadaan psikologis seperti yang dialami oleh ibu. Karena itu, ibu harus mulai memberikan kesempatan dan arahan agar suami mengerti apa yang harus ia lakukan.

“Pada dasarnya, laki-laki bangga ketika ia berhasil mendapatkan penerus, apalagi laki-laki. Namun, dalam masalah kehamilan dan pekerjaan rumah tangga, istri juga harus membantu suami, dengan mengungkapkan secara jelas. Jangan banyak menyindir dan kritik. Berikan suami kesempatan terlibat, dan pahami kecemasan suami,” tambah Anna. [WS]{jcomments on}

Go to Source