Jakarta – Puasa tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan anak, melainkan juga memberikan manfaat bagi kesehatan psikisnya. Dengan berpuasa, anak dapat belajar untuk berempati bagi orang yang kekurangan. Anak juga belajar untuk tidak hanya merasakan, tetapi juga melakukan sesuatu yang baik.

Hal ini disampaikan Hilman Al Madani, konselor keluarga dari Yayasan Kita dan Buah Hati, di Jakarta, Senin (23/7). “Dalam kondisi melakukan, dan bagaimana merasakan keadaan seperti anak yang kelaparan. Itu adalah salah satu pendidikan karakter,” ujar Hilman.  

Selain itu, kata Hilman, puasa akan membuat anak menjadi lebih kondusif untuk belajar. Karena ketika menjalankan puasa, anak justru dalam keadaan konsentrasi penuh.

“Seandainya sang anak mampu mempertahankan gelombang alfanya menjadi bekal pembelajaran yang baik, maka banyak hal yang bisa dipelajari selama bulan puasa,” jelasnya.  

Ia menambahkan, puasa juga membuat anak belajar untuk menahan diri. Dimana bila hal tersebut terpatri di dalam dirinya hingga dewasa, ia bisa menahan diri untuk melakukan hal yang tidak dikehendaki oleh orang lain.

Mengenai waktu yang tepat untuk mengajarkan puasa, Hilman menilai hal tersebut dapat diajarkan sejak anak masih dalam kandungan. Misalnya ketika ibu mengajak bicara janin, bahwa ia ingin berpuasa. Kemudian, ketika lahir, anak mulai diajarkan dan diperkenalkan.

“Tetapi, jangan paksakan anak berpuasa hingga sore hari. Sebaiknya buatlah kesepakatan dengan anak. Misalnya, “ade mau puasa berapa lama”. Pada awalnya, anak dapat diajarkan selama satu atau dua jam kedepan, kemudian ditambah waktunya seiring dengan pertumbuhan fisiknya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, changing down membuat lebih mudah. Karena belajar sedikit demi sedikit, mereka jadi tidak berasa kalau puasanya semakin lama. Sehingga, setelah pubertas mereka sudah siap berpuasa full.

Orangtua tidak perlu khawatir untuk membujuk anak berpuasa dengan memberikan reward. Namun, sebaiknya apa yang diberikan bukanlah makanan, tetapi lebih kepada hal yang konkret dan terlihat, seprti buku, tas, dan sebagainya.

“Namun, setelah perkembangannya naik sedikit demi sedikit, anak dapat mulai iajari dari sisi agama, seperti pahala, dosa, dan sebagainya,” katanya. [WS]

 

Go to Source