Jakarta – Rosalina D. Roeslani, anggota Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia Indonesia (IDAI), mengatakan bahwa masyarakat perlu mengetahui mengenai adanya penyakit yang dapat ditularkan oleh ASI. Karena itu, ia mengimbau agar jangan pernah menggunakan donor ASI yang keamanannya kurang diperhatikan.

Demikian disampaikannya pada konferensi pers di Kantor IDAI, Jakarta, Rabu (1/8).

“Saya sering lihat di Twitter, majalah, dan media online, kalau ada yang menawarkan donor ASI. Karena itu, masyarakat harus dikasihtahu bahwa ada beberapa penyakit yang bisa ditularkan melalui ASI,” ujar Rosa.

Menurutnya, ibu yang melakukan donor ASI sebelumnya harus melakukan skrining tubuh dulu. Hal ini untuk mengetahui apakah pendonor ASI memiliki penyakit berat yang dapat menular ke bayi atau tidak.

Skrining tubuh dilakukan untuk menjamin agar bayi yang mendapat ASI, tidak terpapar penyakit dari si pendonor. Beberapa penyakit yang dapat menular adalah yang berkaitan dengan darah, seperti HIV dan Hepatitis.

“Skrining pada dasarnya bisa dilakukan di mana saja. Selama rumah sakit tersebut memiliki laboratorium. Jadi tidak harus jauh-jauh pergi ke Jakarta,” ujar Rosa.

Rosa sangat tidak menyarankan ibu mendapat ASI dari orang yang belum diskrining, meskipun orang tersebut adalah keluarga atau kerabat dekat sekali pun.

Untuk pendonor, Rosa menyarankan agar seorang ibu tidak memberikan ASI nya kepada bayi lain, bila kebutuhan bayinya masih kurang. Ia menyarankan, seorang pendonor hanya boleh memberikan ASI pada 6 bulan pertama setelah melahirkan. Setelah itu, ASI hanya diberikan khusus kepada bayinya.

“Jadi, sebenarnya ada hitungan berpa jumlah yang dibutuhkan oleh bayi. Untuk anak yang berusia 0-28 hari, dibutuhkan sebanyak 150 cc/kg/hari. Kemudian, kebutuhan akan bertambah sesuai dengan perkembangan anak, hingga bisa mencapai 200 cc/kg/hari,” ujar Rosa.

Cara melihat bahwa bayi telah mendapatkan asupan ASI yang cukup sangat mudah. Rosa mencontohkan, bila anak tidur dengan baik, jarang rewel, dan pertumbuhannya optimal, itu menunjukkan asupannya sudah cukup.

Untuk ibu yang bekerja, mereka dapat menyimpan ASI-nya di lemari pendingin, sehingga suatu saat anak membutuhkan bisa langsung diminum. Ia menjelaskan, dengan penanganan yang tepat, Asi bahkan dapat bertahan hingga waktu yang cukup lama.

“Kalau di simpan di tempat dengan minus 20 derajat, dan selalu dibuka 2 kali sehari, ASI dapat disimpan hingga setahun,” ujarnya. [WS] {jcomments on}

Go to Source